Suka Duka Petugas Pemadam Kebakaran

W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Menjadi petugas pemadam kebakaran lebih banyak duka ketimbang sukanya. Begitulah yang dirasakan petugas pemadam kebakaran di Kabupaten Karimun. Bahkan, tak jarang para petugas ini mendapat caci maki dari masyarakat jika dinilai terlambat datang ke lokasi kebakaran.
Begitulah ungkapan perasaan yang disampaikan Kepala Seksi Pemadam Kebakaran Kantor Satpol PP Karimun, Hendra Hidayat didampingi anggotanya Nanang dan Amir saat dijambangi Haluan Kepri di Kantor Pemadam Kebakaran Jalan Pertambangan, Tanjungbalai Karimun, Sabtu (16/2) kemarin.

Menurut Hendra, bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran harus dengan sepenuh hati dan kesabaran yang tinggi. Kalau tidak, bisa tiap hari terjadi bentrok dengan masyarakat. Pasalnya, saat berada di lapangan para petugas terjerat dengan beban, emosi dan fikiran untuk membagi antara kondisi kebakaran dengan luapan emosi masyarakat yang kadang tak terkendali.

“Bekerja di bagian pemadam kebakaran itu memang banyak dukanya. Makanya, kami sudah dilatih untuk selalu bersikap sabar untuk menghadapi berbagai kondisi yang terjadi di lapangan. Mulai dari ketepatan waktu sampai ke lokasi kebakaran, hingga menghadapi kondisi masyarakat yang panik melihat rumahnya terbakar,” kata Hendra.

Namun, bukan berarti tak ada sukanya, kata Hendra lagi, rasa suka yang dirasakan petugas pemadam kebakaran adalah ketika kembali dari tugas atau saat berada diatas mobil bersama tim satu kerja. “Nah, saat-saat itu kami merasa puas dan bangga sekali bisa membantu orang yang dalam kesusahan, tak jarang kami berteriak kegirangan dan bernyanyi bersama. Pokoknya, ada suatu kepuasan bathin,” ungkapnya.

Amir anggota petugas kebakaran juga menyebut, begitu ada panggilan adanya kebakaran maka dalam kondisi apapun atau sedang melakukan kegiatan apapun saat itu harus segera ditinggalkan. Saat itu, yang ada dalam benak petugas hanyalah bagaimana mengedepankan tugas.

“Makanya, petugas pemadam kebakaran jarang yang memenuhi undangan pesta pernikahan karena mereka dituntut untuk selalu berada dalam tugas. Artinya, jika sewaktu-waktu ada panggilan terjadinya kebakaran, maka semua petugas harus selalu siap untuk berangkat ke lokasi kebakaran,” ungkap Nanang anggota pemadam kebakaran lain menambahkan.

Suka Duka Petugas Pemadam Kebakaran

Suka Duka Petugas Pemadam Kebakaran

Apa yang disampaikan dua anggotanya itu diperjelas lagi oleh Hendra, menurutnya setiap anggota pemadam kebakaran sudah didoktrin untuk selalu berada di kantor. Tidak ada alasan bagi mereka meninggalkan kantor, kecuali betul-betul dengan alasan yang tidak bisa dihindarkan. Namun, harus ada petugas penggantinya.

“Saat ini, jumlah personil petugas pemadam kebakaran sebanyak 30 orang. Mereka dibagi dalam dua shift selama dua jam. Satu shift berjumlah 7-8 orang. Sisanya ada yang kebagian off. Nah, bagi anggota yang off bukan berarti bebas dari tugas, jika sewaktu-waktu diperlukan maka mereka siap diluncurkan ke lokasi kejadian,” terang Hendra lagi.

Dirinya juga berusaha untuk memenuhi respontime standar nasional jarak waktu antara kantor dengan lokasi kejadian yang hanya memakan waktu 15 menit, namun itu harus dilakukan secara bertahap-tahap. Saat ini, pihaknya baru mampu menggunakan waktu tempuh 30 menit tapi perlahan-lahan akan terus dikurangi per menit.

“Kalau untuk di Karimun, respontime 15 menit itu masih belum bisa diterapkan, karena kondisi jalan di Karimun yang sempit, belum lagi kendala di masyarakat yang kerap mendahului mobil pemadam kebakaran, selain itu masih ada kurangnya kesadaran pengguna jalan untuk memberikan jalan bagi mobil pemadam kebakaran yang tengah melaju kencang ke lokasi kebakaran itu. Namun, perlahan-lahan respontime itu akan kami upayakan untuk tercapai,” tegasnya.

Hendra juga menjelaskan, setiap pekerjaan memang penuh dengan resiko, begitu juga dengan bekerja di bagian pemadam kebakaran, namun selaku pimpinan dirinya berusaha meminimalisir resiko tersebut, baik resiko terhadap anggota dengan melengkapi semua anggota menggunakan safety (pengaman) saat bekerja.

Begitu juga dirinya berusaha mengurangi resiko dari dampak kebakaran. Maksudnya, jika terjadi kebakaran di suatu lokasi, maka pihaknya berusaha mengantisipasi agar kebakaran tersebut tidak sampai melebar ke lokasi lainnya. “Bukan berarti rumah yang sudah terlanjur terbakar tidak kita padamkan, tapi kita harus berusaha mencegah agar kebakaran tidak sampai melebar,” jelas Hendra.

Menurut pria jebolan Universitas Bung Hatta Padang ini, kasus kebakaran yang paling banyak terjadi di Karimun adalah kebakaran lahan, bahkan lebih dari 60 persen dari total kasus kebakaran didominasi oleh kebakaran lahan. Dirinya menilai kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan masih rendah. Masyarakat seenaknya saja meninggalkan lahan yang mereka bakar.

“Untuk itulah, saya menghimbau kepada masyarakat Karimun untuk selalu menjaga lingkungan sekitar, kalau memang ada masyarakat membakar sampah atau membakar semak-semak, ya harus ditunggui sampai selesai, kalau memang rasanya membahayakan kepada lingkungan sekitar, harus cepat-cepat dipadamkan,” ujarnya.

Hendra menjelaskan, data-data kasus kebakaran yang terjadi di Karimun selama rentang waktu lima tahun belakangan, mulai dari tahun 2008 terdapat 20 kasus, 2009 sebanyak 18 kasus, 2010 terdapat 72 kasus, 2011 terdapat 53 kasus, 2012 terdapat 64 kasus. Dan selama Januari 2013 terdapat 14 kasus, sementara selama Februari ditemukan 8 kasus